Blog

Step by Step Belajar Membuat Toko Online bagian 2

Berikut beberapa renungan saya kemudian yaa…

1. Be honest

Bisnis itu yang jujur. Jujur ini kan kata2 mudah, tapi sulit pelaksanaannya, luas pula. Kita perlu belajar menemukan diri kita sebenarnya, sebagai pebisnis. Kita ini tipe pebisnis apa sih? Lalu biarkan orang lain membaca dan berhubungan dg kita. Terbka saja, jgn ada yang ditutup2i. Jangan gengsi2an karena takut bisnisnya dikatakan masih kecil, ada masalah, banyak hutang, banyak leasing, masih pakai CC dll. Ini penting supaya orang bisa memberikan kepercayaan penuh kepada kita. Hukum alam kan berbicara aksi reaksi. Kalau kita dorong tembok 10 kg, tembok mendorong kita balik 10kg jg. Kalau kita ingin orang terbuka ke kita, kita juga sebaliknya. Saya discreening lho sama tim BOD TDA, dicek satu2 file saya. Setelah yakin, pembelaan itu datang, spt unlimited.

2. Menjaga hubungan baik dengan siapa saja, baik kita perlu atau tidak.

Kita sering egois, kalau sama pebisnis besar, kita hormat banget. Sama para start up, kita cuek. Saya maksudnya. Kalian semua sih luar biasa:grinning:.

Nah ini kita belajar banyak. Bina hubungan dengan siapapun, perlu atau tidak, selama itu membuat kita banyak teman. Yang kita tanam, itu kan pasti kita tuai. Hukum tabur tuai lah. Saya kadang nggak enak, karena di PW saja misalnya, saya datang di hari terakhir, jam terakhir, yang katakanalah ga perlu beli tiket. Ini saya bicara saya dan TDA:grinning:. Tapi entah kenapa mau support sedemikian rupa. Ya wallahu a’lam, tapi saya berkeyakinan secara ikhtiar ini hukum tabur tuai. Allah gerakkan hati beliau2 untuk dukung saya. Makanya jangan ragu, tanam kebaikan hubungan baik dg siapa saja, sekecil apapun, suatu hari kita dapat balasannya

3. Empati kepada orang lain.

Jadi saya punya program sebetulnya, dengan istri dan temen2, untuk jadi traveler. Targetnya, setahun minimal 2x ke LN. Itu 2014, 2015, 2016 tercapai. Tujuannya sih ya jalan2, membahagiakan istri, menikmati hasil jerih payah, dan tadabbur.

Nah yang sering saya enggak enak itu kondisi karyawan kan. Saya sering berfikir, wah jangan2 karyawan berfikir : ini si bos jalan2 terus, kita kapan? :grinning:

Ini kita perlu empati. Jangan keseringan show, supaya karyawan jg memahami bahwa kita peduli & empati. Jangan bossy lah. Saya belajar dr Pak Teguh bagaimana membina karyawan, luar biasa beliau, sampai kenal dan main ke rumah karyawannya. Saya belum sampai sejauh itu. Cuma dari sini saya belajar, supaya hubungan kita seimbang. Ini kan aksi reaksi juga.

Prinsipnya adalah win2 kan kalau menurut Covey. Jangan win lose, lose win apalagi lose lose. Saya pengin karyawan awet, gaji cukup, anak2nya sejahtera. Jangan nanti kita sebagai owner pakai mobil mewah, karyawan buat cicilan motor aja susah payah. Ini win lose namanya. Empati ini harus dibarengi dengna komunikasi yang baik supaya purposenya karyawan tahu.

 

4. Common sense.

Terakhir ini. Ini acak soalnya sambil saya inget2.

Jadi keberadaan kita kan sebetulnya tentang memberikan manfaat ke sekitar. Ini banyak cabangnya, banyak macamnya. Banyak bentuknya. Tapi semua bisa dirangkum dalam common sense atau isu keumuman kita bisa terlibat di dalamnya. Karena itu bersosialisasi menjadi mutlak karena di sosialisasi inilah ada common sense. Ikutlah misalnya komunitas halal, komunitas sepeda, komunitas de el el, yang sekiranya manfaat. Tidak harus jadi pengurus, tp poinnya bagaimana menunjukkan peran. Common sense memudahkan kita mendapatkan dukungan. Dalam case saya, common sensenya adalah UKM. Saya aktif di komunitas halal dan jadi pengurus di beberapa komunitas. Sekali lagi, tidak harus jd pengurus ya, tp paham apa isu umumnya yang bisa kita ambil peran di sana.

Naahh….itu kira2 yang saya alami dan rasakan. Tentu tidak mewakili kebenaran, perlu coba2 dan dicari kesesuaiannya dg kondisi kita.

Masih banyak yang harus saya pelajari, dan mohon doa untuk saya ya hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tambahkan Kontak Whatsapp Kami : 087870201037 Invite Pin BBM kami : 5C648CAA